Selasa, 18 Juni 2013

Pengembangan bibit gaharu dari Cabutan (dengan teknik penyungkupan)

Bagi Teman-teman yang ingin mengembangkan bibit gaharu sendiri baik untuk keperluan tanam sendiri atau keperluan bisnis (dijual lagi) kami menyediakan dalam bentuk cabutan anakan.


1. Anakan gaharu tinggi 5 cm - 10 cm    Harga Rp. 500/bibit. 
    
 Gambar Anakan gaharu tinggi 5 - 10 cm

2. Anakan gaharu tinggi 15 cm - 30 cm   Harga Rp. 800/bibit

 Gambar.  Anakan bibit gaharu tanpa media tinggi 15 - 30 cm

Gambar.  Anakan bibit gaharu tanpa media tinggi 15 - 30 cm
* Harga diatas belum termasuk ongkos kirim

Info Lebih Lanjut Hub.
Agus Sumadi
Hp. 081373882778
Palembang

Petunjuk Teknis Pemeliharaan Bibit Melalui Penyungkupan

Bahan dan alat yang diperlukan :
- Polybag ukuran 12 cm x 15 cm
- Media tanam : topsoil  (tanpa pupuk kimia)
- Bambu untuk pembuatan sungkup (tergantung ukuran besar kecilnya sungkup).
- Plastik bening (untuk sungkup)
- Lakban/ plaster
- Tali pengikat

A. Pemilihan Lokasi
Lokasi persemaian hendaknya berada pada daerah yang ternaungi (di bawah tegakan). Dihindari penempatan bibit berada langsung di bawah terik matahari. Apabila tidak terdapat naungan tegakan yang cukup, dapat dilakukan pemasangan paranet/shading net dengan persentase 50-75% (paranet tidak diletakkan langsung diatas sungkup). Lokasi juga hendaknya dekat dengan sumber air.

B. Penyiapan Media Tanam
- Media tanam adalah topsoil Sebaiknya dihindari penggunaan pupuk kimia.
- Media tanam dimasukkan ke dalam polybag dengan ukuran 12 cm x 15 cm atau dapat juga ukuran yang lebih besar. Ukuran polybag juga dipengaruhi ketersediaan lahan pembibitan. Polybag yang berukuran besar memerlukan lahan persemaian yng lebih luas.
- Polybag yang telah terisi disusun dengan lebar maksimal 140 cm dengan panjang bedengan disesuaikan dengan banyaknya bibit yang disemaikan.

C. Penanaman
- Bibit yang telah tersedia sebaiknya direndam dalam air bersih (sebaiknya ditambah hormon perangsang akar) selama 30 menit setelah dikeluarkan dari kardus.
- Bibit ditanamkan ke dalam polybag dengan terlebih dahulu membuat lubang sebesar ukuran perakaran bibit pada media tanam pada polybag.
- Setelah ditanami dilakukan penyiraman secukupnya.

D. Pembuatan Sungkup
- Pembuatan sungkup dilakukan dengan ukuran tinggi 40 – 50 cm dengan lebar adalah ukuran penyusunan polybag dan panjang tergantung panjang susunan polybag.
- dibuat busur-busur dari bambu dengan jarak antar busur 1-1.5  meter. Ujung masing-masing busur ditancapkan ke dalam tanah di samping posisi bibit terluar serta bagian tengah busur diikatkan pada galangan/palang.
- Plastik benih (jangan hitam) dipasang setahap demi setahap mulai dari pangkal ke ujung. Bersamaan dengan pemasangan plastic dilakukan penyiraman hingga bibit jenuh air dan seluruh plastic bagian dalam basah. Hal ini dilakukan hingga seluruh kerangka sungkup tertutup erat plastic.
- Kedua ujung sungkup (yang akan berbentuk kubah panjang) ditutup rapat dengan lakban/plaster sehingga udara tidak dapat keluar masuk. Pada kedua bagian ini (pangkal dan ujung) plastic pelapis sebaiknya dua rangkap untuk menghindari kebocoran.
- Seluruh pinggir plastic yang berada didekat permukaan tanah ditutupi dengan tanah dengan rapat.
        Gambar .  Teknik penanaman bibit gaharu cabutan dengan penyungkupan




E. Pemeliharaan
- Bibit dipelihara dalam sungkup selama +/- 1 bulan. Selama ini kegiatan pemeliharaan yang dilakukan adalah melakukan control 2-3 hari sekali dengan memperhatikan kondisi kelembaban di dalam sungkup. Apabila bibit terlihat kering maka dilakukan penyiraman kembali hingga polybag terlihat jenuh air. Dalam penyiraman tersebut dihindari pembuka sungkup dengan ukuran besar sehingga cukup dimasuki selang saja.
- Setelah lebih kurang 1 bulan, sungkup dibuka setahap demi setahap (Dilarang membuka sungkup sekaligus) misal setengah meter sehari. Selama pembukaan sungkup tetap dilakukan penyiraman secukupnya.
- Setelah semua sungkup dibuka, sebaiknya bibit disiram sekali sehari (terutama pada musim kemarau) hingga bibit siap didistribusikan.
- Untuk menghindari akar bibit menembus tanah sebaiknya setiap dua bulan sekali dilakukan penggeseran bibit.
Sumber : Laksmananursery.blogspot.com










Rabu, 04 Juli 2012

Jual Bibit Gaharu Aquilaria malaccensis

Bibit Gaharu (Aquilaria malaccensis) dalam Polybag

Lokasi Pembibitan
Desa Rejosari, Kecamatan Kemiri, KUTOARJO. 
Kabupaten Purworejo. JATENG.

Bibit gaharu untuk wilayah jawa tengah, jawa timur dan jawa barat

Bibit kita kembangkan secara mandiri mulai dari pohon induknya yang ada di wilayah Sumatera.
Sehingga harga yang kita tawarkan mampu bersaing dengan harga pasaran.
Bibit yang sudah siap dalam polybag ada sekitar 70.000 bibit.
Kondisi bibit seperti pada foto berikut.    


Foto Bibit gaharu di Kutoarjo Jawa Tengah Bulan April 2013




Foto Bibit gaharu di Kutoarjo Jawa Tengah Bulan Maret 2013

Harga bibit dalam polybag

  1. Tinggi 10 - 15 cm harga Rp  2.500,-/bibit
  2. Tinggi 15 - 20 cm harga Rp  2.750,-/bibit.
  3. Tinggi 20 - 30 cm harga Rp  3.000,-/bibit.
  4. Tinggi 30 - 40 cm harga Rp. 4.000,-/bibit
  5. Tinggi 40 - 50 cm harga Rp. 5.000,-/bibit
Harga diatas belum termasuk ongkos kirim.

Bagi yang memerlukan
Hubungi Agus Sumadi. S. Hut
Hp. 081373882778
Balai Penelitian Kehutanan

Selasa, 08 November 2011

Teknik Inokulasi Gaharu


Lubang itu teramat mungil: diameter 2 mm dan kedalaman 5 mm. Bekas gerekan serangga Zeuzera conferta di batang karas itu menjadi gerbang bagi cendawan penghasil gaharu. Dengan lubang mini itulah justru Erdy Santoso memanen gaharu hanya dalam waktu setahun; lazimnya, 3 tahun pascapenyuntikan.
Erdy Santoso, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam itu menerapkannya di beberapa pohon karas Aquillaria malaccensis milik Johny Wangko. Setahun kemudian pada penghujung Maret-April 2008, Johny memanen 15 kg kamedangan. Kamedangan adalah gaharu kelas tiga yang dijual US$150 setara Rp1,35-juta per kg. Artinya pekebun gaharu di Desa Serdang, Bangka Selatan, itu meraup omzet Rp20-juta dari penjualan 15 kg kamedangan.
Yang menggembirakan tentu saja bukan hanya uang segunung itu. Namun, bagi Johny adalah singkatnya waktu panen yang Cuma setahun. Bandingkan dengan pekebun lain yang panen 2-3 tahun pascapenyuntikan cendawan. Singkatnya waktu panen itu berkat inspirasi serangga Zeuzera conferta yang membuat lubang mini di permukaan batang karas alias gaharu. Selama ini teknologi untuk menginokulasi gaharu dengan cara menggergaji batang sedalam 1 cm secara zigzag.
Perbanyak lubang
Pekebun yang menerapkan teknologi lubang besar berkedalaman 1/3 diameter batang itu baru dapat menuai gaharu setelah 3 tahun. Menurut Dr Irnayuli R Sitepu, ahli bakteri, lubang besar memudahkan masuknya berbagai serangga dan jasad renik lain yang bersifat patogen. Lubang besar juga memicu pohon lapuk. ‘Akibatnya pohon busuk dan mati,’ ujar doktor alumnus Hokaido University itu. Lubang kecil justru mempunyai banyak kelebihan.
Pertama karena menghemat inokulum alias cendawan yang akan disuntikkan ke dalam lubang. Menurut Ir Ragil SB Irianto MSc, ahli gaharu, lubang 2 mm memerlukan 1 cc inokulum; lubang 1 cm 5 cc. Inokulum dijajakan dalam kemasan 300 cc dengan harga Rp50.000. Lubang kecil memang mengakibatkan lamanya waktu virulensi. Oleh karena itu, ‘Saya perbanyak jumlah lubang,’ kata Erdy.
Pohon setinggi 4 m, misalnya, terdiri atas 300 lubang. Erdy membuat lubang-lubang itu dengan bor. Poros lubang zigzag dengan jarak 5-10 cm agar, ‘Gaharu yang terbentuk berkumpul dan membentuk lingkaran,’ ujar peneliti gaharu sejak 1984 itu. Dengan lubang zigzag, praktis semua bagian pohon terinfeksi cendawan yang pada akhirnya membentuk gaharu.
Ahli patologi hutan itu juga menyuntikkan cendawan di bagian akar. Ia menggali akar yang terpendam dalam tanah dan mengebornya. Cara dan jarak pengeboran sama dengan pembuatan lubang di batang. Setelah cendawan disuntikan ke akar, ia menutupnya dengan parafi n untuk mencegah masuknya mikroorganisme patogen.
Cendawan top
Rahasia sukses panen cepat gaharu itu juga berkat cendawan unggul koleksi Erdy. Pria 50 tahun itu mengumpulkan cendawan dari 17 provinsi seperti Jambi, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat. Dari 23 cendawan yang biasa menginfeksi gaharu, Erdy menemukan 4 unggulan. Semua bergenus Fusarium. Sayang, Erdy enggan mengungkap spesies cendawancendawan itu lantaran tengah dipatenkan.
Perpaduan antara cendawan dan teknik suntik terbaru itu menghasilkan proses infeksi lebih cepat. ‘Sebulan setelah penyuntikan, sekitar lubang sudah tampak kehitaman,’ kata Johny Wangko yang menerapkan temuan Erdy. Setahun kemudian, 1-2 kg resin gaharu bisa dipanen. Kayu terinfeksi itu berwarna hitam dengan gurat-gurat putih samar. ‘Jika dibiarkan 1-2 tahun lagi, gaharu yang terbentuk akan lebih banyak dan lebih hitam,’ katanya.
Menurut Drs Yana Sumarna MSi, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, proses terbentuknya gaharu akibat pohon terluka dan terinfeksi patogen. Mekanisme proses fi siologis terbentuknya gaharu dimulai dari masuknya mikroba penyakit ke dalam jaringan kayu. Untuk mempertahankan hidup dan perkembangannya, mikroorganisme itu memanfaatkan cairan sel jaringan pembuluh batang sebagai sumber energi. Secara perlahan, efek hilangnya cairan sel menurunkan kinerja jaringan pembuluh dalam mengalirkan hara ke daun.
Sel-sel yang isinya sudah dikonsumsi mikroba itu akan membentuk suatu kumpulan sel mati pada jaringan pembuluh. Akibatnya, fungsi daun dalam memproses hara menjadi energi pun terhenti sehingga daun menguning dan tanaman mati. Secara fisik, cabang dan ranting mengering, kulit batang pecah, dan mudah dikelupas. Kondisi itu merupakan ciri biologis pohon yang menghasilkan gaharu. Singkatnya, gaharu terbentuk sebagai hasil respon tanaman terhadap infeksi patogen, luka, atau stres. (Lani Marliani)
(Sumber  : www.trubus-onlain.co.id  2 Mei 2008)


Gambar proses pengeburan batang pohon penghasil gaharu dengan bor listrik diameter 8 mm


Gambar penyuntikan inokulan fusarium ke pohon


Gambar hasil inokulasi setelah 3 bulan

Selasa, 11 Oktober 2011

Pola-Pola Penanaman Pohon Gaharu

Penanaman pohon gaharu dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya
1. Pola Monokultur
             Pola ini pohon penghasil gaharu ditanam secara monokultur satu jenis tanpa ada tanaman lain. Contoh pola  penananm ini seperti pada gambar berikut ini.
Gambar   . Pola tanam gaharu secara monokultur umur 5 tahun
2. Pola campuran
            Penanaman pohon gaharu yang paling sering digunakan berupa pola campuran antara pohon gaharu dengan komoditas perkebunan lainnya seperti dengan karet atau jenis tanaman pohon lainnya. Pola tanam campuran ini telah banyak dikembangkan oleh masyarakat seperti pada gambar berikut ini.
Gambar  . Pola tanam campuran karet dan gaharu 
Penanaman pola campuran ini dilakukan setelah tanaman karet berumur 3 - 4 tahun baru pohon penghasil gaharu ditanam pada sela-sela jalur karet.  Pada gambar gaharu umur 2 tahun yang ditanam pola campuran. 

3. Tanaman Baris/Batas
            Pola tanaman baris atau batas biasanya dilakukan pada batas lahan yang bertujuan memberikan batas kepemilikan lahan. Pada pola ini tanaman gaharu ditanam secara baris sepanjang batas tanah. Gambaran pola tanam ini seperti berikut.
 Gambar  . Foto pohon penghasil gaharu pola baris